Diskriminasi



Download 336.1 Kb.
Page9/18
Date11.01.2022
Size336.1 Kb.
#86555
1   ...   5   6   7   8   9   10   11   12   ...   18
Diskriminasi dan Kesehatan-2018-10-16T05 45 39.026Z (1)
Bullying

Bullying merupakan kata serapan dari bahasa Inggris (bully) yang berarti menggertak atau mengganggu orang (pihak) yang lemah. Bullying sendiri merupakan salah satu bentuk diskriminasi. Bullying sebenarnya bukan hanya terjadi di lembaga pendidikan/sekolah, tetapi juga di tempat kerja, masyrakat, bahkan komunitas virtual. Luasnya cakupan bullying juga menyebabkan munculnya berbagai definisi.

Untuk bullying di sekolah, Salmivalli dkk (2011) menjelaskan, bullying di sekolah merupakan proses dinamika kelompok yang di dalamnya terjadi pembagian peran, yakni bully, asisten bully, reinfocer, defender, dan outsider. Bully yaitu siswa yang dikategorikan sebagai pemimpin, berinisiatif dan aktif terlibat dalam perilaku bullying. Asisten bully, juga terlibat aktif dalam perilaku bullying, namun yang besangkutan cenderung begantung atau mengikuti perintah bully. Rinfocer adalah mereka yang ada ketika kejadian bullying terjadi, ikut menyaksikan, mentertawakan korban, memprofokasi bully, mengajak siswa lain untuk menonton dan sebagainya. Defender adalah orang-orang yang berusaha membela dan membantukorban, sering kali akhirnya mereka menjadi korban juga. Sedangkan outsider adalah orang-orang yang tahu bahwa hal itu terjadi, namun tidak melaukan apapun, seolah-olah tidak peduli.



Ada beberapa tipe bullying, yakni:

    1. Physical bullying (Kontak fisik langsung): memukul, mendorong, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimliki orang lain.

    2. Verbal bullying (kontak verbal langsung): mengancam, mempermalukan, mengganggu, memberi panggilan nama (name–calling), sarkasme, merendahkan (put-down), mencela/mengejek, mengintimidsi, mengejek, menyebarkan gosip).

    3. Non Verbal bullying (Perlaku non-verbal langsung): melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, mengejek, atau mengancam, biasanya disertai oleh bullying fisik atau verbal).

    4. Indirect non verbal (Perilaku non verbal tidak langsung): mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng.

    5. Social Alienation (Alienasi sosial): mengecualikan seseorang dari kelompok, seperti dengan menyebarkan rumor, dan mengolok-olok

    6. Cyber bullying (Bullying elektronik): merupakan bentuk perilaku bullying yang dilakukan pelakunya dengan menggunakan sarana elektronik seperti komputer, handphone, internet, website, chatting room, e-mail, SMS dan sebagainya. Tujuannya, meneror korban dengan menggunakan tulisan, animasi, gambar dan rekaman video atau film yang sifatnya mengintimidasi, menyakiti atau menyudutkan. Bullying jenis ini biasanya dilakukan oleh kelompok remaja yang telah memiliki pemahaman cukup baik terhadap sarana teknologi informasi dan media elektronik lainnya.



Gambaran Kasus Bullying Verbal (Sumber: www.liputan6.com)

Bullying sendiri mempunyai 3 komponen utama, yaitu The Bully (Pelaku bully itu sendiri), The Victim (korban dari perilaku Bully), dan The Brystander (sering kali disebut sebagai observer atau watcher yang tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan Bullying atau menjadi aktif terlibat dalam mendukung bullying).

Faktor utama penyebab bullying ada 4 hal, yaitu faktor keluarga. Faktor keluarga yang menyangkut faktor kualitas hubungan orang tua dengan anak, dengan adanya penggunaan hukuman fisik ketika anak ataupun anggota keluarga yang lain melakukan kesalahan. Hal ini dapat memicu terjadinya perilaku bullying. Anak yang sering terkena bully, mempunyai kecenderungan hubungan yang tidak harmonis pada lingkungan keluarganya. Anak tersebut biasanya bermasalah dalam menjalin komunikasi yang baik. Padahal, hal ini dapat membantu anak untuk mengembangkan pikiran yang positif tentang dirinya dan mempunyai kemampuan berinteraksi dengan sesamanya.

Faktor kedua yaitu kehidupan sosial ataupun lingkungan, kondisi kehidupan sosial (terutama di kota-kota besar) yang mengidap penyakit frustasi sosial, menyebabkan terjadinya adult oriental di masyarakat, sehingga dapat mendorng terjadinya bullying. Fakor ini memberikan nilai yang besar terhadap perilaku bullying.

Tradisi senioritas seringkali diperluas oleh siswa sendiri sebagai kejadian yang bersifat laten, bagi mereka keinginan untuk melanjutkan masalah senioritas ada untuk hiburan, penyaluran dendam, iri hati, atau mencari populatritas, melanjutkan tradisi, atau untuk melanjutkan kekuasaan.

Usia anak maupun remaja adalah usia yang rentan dimana ia akan sering bereksperimen dengan segala tindakan dan ekspresi yang membuat mereka penasaran tanpa memikirkan sebab dan akibat. Di usia ini lingkungan sosial tempat mereka tinggal dapat sangat mempengaruhi perilaku Bullying mereka, baik yang mereka dapatkan maupun yang mereka lakukan.

Faktor selanjutnya yaitu teman sebaya, Pencarian identitas diri remaja dapat melalui penggabungan diri dalam kelompok teman sebaya atau kelompok yang diidolakannya. Bagi remaja, penerimaan kelompok penting karena mereka bisa berbagi rasa dan pengalaman dengan teman sebaya dan kelompoknya. Untuk dapat diterima dan merasa aman sepanjang saat-saat menjelang remaja dan sepanjang masa remaja mereka, anak- anak tidak hanya bergabung dengan kelompok-kelompok, mereka juga membentuk kelompok yang disebut klik. Klik memiliki kesamaan minat, nilai, kecakapan, dan selera. Hal ini memang baik namun ada pengecualian budaya sekolah yang menyuburkan dan menaikan sejumlah kelompok diatas kelompok lainnya, hal itu menyuburkan diskriminasi dan penindasan atau perilaku bullying (Coloroso, 2007).

Faktor terakhir yaitu pengaruh media, faktor ini juga bisa menjadi faktor penyebab terjadinya bullying. Efeknya juga akan terlihat berupa bentuk perilaku bullying mulai dari yang sifatnya ringan sampai dengan yang dapat menelan korban jiwa.

Di Indonesia terdapat kasus bullying yang disebabkan oleh tayangan sinetron ditelevisi yang mengangkat kisah tentang kebrutalan, kekerasan (perkelahian) yang secara tidak langsung memberikan dampak yang negatif bagi masyarakat terutama remaja yang masih duduk dibangku sekolah. Tontonan televisi tampaknya menjadi alat paling ideologis yang dapat mempengaruhi karakter serta paradigma berfikir para siswa untuk meniru adegan-adegan kekerasan yang ada dalam televisi tersebut.

Dari beberapa faktor diatas, ada faktor lain-lain yang sebenarnya dapat menyebabkan perilaku Bullying. Seperti faktor masalah gender sebagai laki-laki dengan kecenderungan untuk berkelahi. Orang tua menekankan agar anak laki-lakinya itu harus kuat, tidak boleh kalah dalam persaingan. Sayangnya, orang tua tidak memberi contoh dari hal-hal yang diajarkan itu, sehingga anak salah dalam memahami makna “kuat” itu bagaimana, menang dari persaingan itu seperti apa.

Faktor psikologis dari orang tua juga dapat berpengaruh, dimana orang tua yang memiliki kesehatan mental dan jiwa yang kurang baik berpotensi besar memiliki anak yang melakukan tindakan bullying. Anak memiliki riwayat korban kekerasan. Biasanya, anak yang pernah mengalami kekerasan khususnya dari orang tua lebih cenderung ‘balas dendam’ pada temannya di luar rumah.

Faktor ingin mendapat pujian dari orang lain, seperti kadang-kadang “berkelahi”. Dia beranggapan, hal itu untuk membuktikan, bahwa kekuatan bisa menjadikan seseorang ketagihan untuk tetap melakukannya. Bisa jadi, siswa berkelai karena mereka senang memperoleh “pujian” banyak orang.


Bullying

Kontrol Sosial







  1. Frustasi

  2. Depresi

  3. Agresi

Pelajar Sekolah

  1. Sekolah (Peran Guru)

  2. Teman Bermain

  3. Orang Tua





Memengaruhi Psikologis dan Proses Belajar


Siklus bullying yang biasa terjadi pada tindakan bullying di Sekolah

Alasan bullying disekolah semakin meluas salah satunya adalah karena sebagian besar korban enggan menceritakan pengalaman mereka kepada pihak yang mempunyai kekuatan untuk mengubah cara berfikir mereka dan menghentikan siklus bullying, yaitu pihak sekolah dan orangtua. Korban merahasiakan bullying yang mereka derita karena takut pelaku akan semakin mengintensifkan bullying mereka. Akibatnya korban bisa semakin menyerap ”falsafah” bullying yang didapat dari seniornya dalam penelitian yang dilakukan oleh Riauskina dkk (Sugiharto, 2009) korban mempunyai persepsi bahwa pelaku melakukan bullying karena:



  1. Tradisi;

  2. balas dendam karena dia dulu pernah diperlakukan sama;

  3. ingin menunjukkan kekuasaan;

  4. marah karena korban tidak berperilaku sesuai yang diharapkan;

  5. mendapat kepuasan;

  6. irihati.

Adapun korban mempersepsikan dirinya sendiri menjadi korban bullying karena :

  1. penampilan mencolok;

  2. berperilaku dengan tidak sesuai;

  3. perilaku dianggap tidak sopan;

  4. tradisi.


Download 336.1 Kb.

Share with your friends:
1   ...   5   6   7   8   9   10   11   12   ...   18




The database is protected by copyright ©sckool.org 2022
send message

    Main page