Diskriminasi


Dampak Diskriminasi dan Hubungannya dengan Kesehatan



Download 336.1 Kb.
Page14/18
Date11.01.2022
Size336.1 Kb.
#86555
1   ...   10   11   12   13   14   15   16   17   18
Diskriminasi dan Kesehatan-2018-10-16T05 45 39.026Z (1)
Dampak Diskriminasi dan Hubungannya dengan Kesehatan

Ada sejumlah dampak yang ditimbulkan oleh aksi diskriminasi. Bagi korban, dampak yang dialaminya bukan hanya dampak fisik tapi juga psikis. Dalam kasus-kasus yang ekstrim, dampak fisik bahkan bisa mengakibatkan kematian. Banyak bukti yang menunjukkan mengenai efek-efek negatif jangka panjang baik terhadap para korban maupun pelakunya. Diskriminasi tidak hanya berdampak terhadap korban, tapi juga terhadap pelaku, individu yang menyaksikan dan iklim sosial yang pada akhirnya akan berdampak terhadap reputasi suatu komunitas.

Dalam jurnal Social Psychological and Personality Science, Asisten profesor di Michigan State University, Amerika Serikat, William Chopik, mengungkapkan “bahwa ketika seseorang mengalami diskriminasi, kesehatan ia lebih buruk dan mengalami depresi. Namun tak hanya itu, stres yang dialami juga memengaruhi kesehatan pasangannya” (Nainggolan, 2017). Studi yang dipublikasikan dalam jurnal tersebut menyimpulkan bahwa diskriminasi memberi banyak efek buruk pada kesehatan secara keseluruhan karena merusak hubungan.

Dampak lain dari diskriminasi yang paling jelas terlihat adalah terganggunya kesehatan fisik. Beberapa dampak fisik yang biasanya ditimbulkan adalah sakit kepala, sakit tenggorokan, flu, batuk, bibir pecah-pecah, dan sakit dada. Bahkan dalam kasus-kasus yang ekstrim, seperti pemukulan dan penyikdaan yang terjadi di STPDN (IPDN), dampak fisik ekstrim ini dapat mengakibatkan kematian.

Dampak lain yang kurang terlihat, namun berefek jangka panjang adalah menurunnya kesejahteraan psikologis (psychological well-being) dan penyesuaian sosial yang buruk. Dalam jangka panjang emosi-emosi ini dapat berujung pada munculnya perasaan rendah diri bahwa dirinya tidak berharga.

Kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial juga muncul pada para korban. Mereka kemudian ingin pindah ke sekolah lain atau keluar dari sekolah itu, dan kalaupun mereka masih berada di sekolah itu, mereka biasanya terganggu prestasi akademisnya atau sering sengaja tidak masuk sekolah.

Aksi diskriminasi seperti bullying di sekolah dapat berdampak yang cukup serius, terutama kepada anak yang menjadi korban aksi bullying, di antaranya:

a) Anak depresi

b) Depresi

c) Rendahnya kepercayaan diri / minder

d) Pemalu dan penyendiri

e) Prestasi akademik merosot.

f) Merasa terisolasi dalam pergaulan

g) Ingin mencoba untuk bunuh diri

Yang paling ekstrim dari dampak psikologis ini adalah kemungkinan untuk timbulnya gangguan psikologis pada korban, seperti rasa cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri, dan gejala-gejala gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder).

Stres dibiarkan karena bisa menimbulkan berbagai gangguan kesehatantermasuk gangguan psikosomatis. Psikosomatis atau penyakit "fungsional" merupakan kondisi yang menyebabkan rasa sakit dan masalah pada fungsi tubuh, walaupun tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan fisik, maupun pemeriksaan penunjang seperti Rontgen atau tes darah.

Bagaimana Pikiran Memengaruhi Penyakit?


Seperti diketahui, pikiran dapat menyebabkan munculnya gejala atau perubahan pada fisik seseorang. Contohnya, ketika merasa takut atau cemas, bisa memunculkan tanda-tanda seperti denyut jantung menjadi cepat, jantung berdebar-debar (palpitasi), mual atau ingin muntah, gemetaran (tremor), berkeringat, mulut kering, sakit dada, sakit kepala, sakit perut, napas menjadi cepat, nyeri otot, atau nyeri punggung. Gejala fisik tersebut disebabkan oleh meningkatnya aktivitas listrik atau impuls saraf dari otak ke berbagai bagian tubuh. Selain itu, pelepasan zat adrenalin (epinefrin) ke dalam aliran darah juga bisa menyebabkan gejala fisik di atas.

Hingga kini, bagaimana persisnya pikiran bisa menyebabkan gejala tertentu dan memengaruhi penyakit fisik, seperti ruam kulit atau darah tinggi, belum diketahui dengan jelas. Impuls saraf yang arahnya menuju bagian-bagian tubuh atau otak, diduga dapat memengaruhi sel-sel tertentu dalam sistem kekebalan tubuh, sehingga menyebabkan timbulnya gejala penyakit. Tapi keseluruhan hal ini masih belum dipahami benar.


Penyakit karena Psikosomatis


Ketika faktor mental memunculkan gejala penyakit, tetapi penyakit itu sendiri tidak bisa ditemukan atau dideteksi secara fisik, atau mengeluh sakit yang tidak sesuai gejalanya, berbagai kondisi ini dikelompokkan dalam gangguan psikosomatis. Keluhan psikosomatis terkadang sulit untuk dikenali, baik oleh penderitanya sendiri ataupun oleh dokter, karena tidak menunjukkan tanda dan gejala yang spesifik. Namun satu hal yang pasti, gangguan ini dapat menyebabkan permasalahan nyata bagi penderita dan orang di sekitarnya.

Beberapa penyakit tertentu memang terbukti dapat diperberat oleh kondisi mental seseorang. Misalnya pada penyakit psoriasis, tekanan darah tinggi, diabetes, dan eksim. Kondisi penyakit tersebut tak jarang akan kambuh atau semakin berat ketika penderitanya mengalami stres atau cemas. Namun secara fisik kondisi tersebut terlihat nyata dan dalam pemeriksaan fisik akan terdeteksi oleh dokter.



Berbeda dengan gangguan psikosomatis, gejala-gejala yang muncul dan tanda kelainan fisik yang terdapat pada penderitanya tidak selalu jelas, dan tidak terdeteksi oleh dokter. Namun, keluhan dan dampak dari gangguan tersebut dirasakan nyata oleh pasien. Hal inilah yang menyebabkan gangguan psikosomatis terkadang sulit untuk dideteksi.

    1. Pengelolaan Keragaman

Diskriminasi dapat timbul salah satunya dikarenakan oleh adanya keragaman dalam kehidupan. Keragaman muncul ketika terdapat perbedaan antara satu anggota organisasi dengan anggota lainnya, antara satu tenaga kerja dengan tenaga kerja lainnya (Yunati, 2014). Keragaman tersebut dapat berupa keragaman dari segi usia, suku bangsa, gender, status, dan lain-lain. Salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk mengatasi nya adalah dengan pengelolaan keragaman. Pengelolaan keragaan adalah salah satu upaya untuk menjaga, menggunakan, memperbaiki, dan memahami semua keberagaman yang ada di kehidupan.
1   ...   10   11   12   13   14   15   16   17   18




The database is protected by copyright ©sckool.org 2022
send message

    Main page